Pages

Tuesday, August 13, 2024

Kisah Cinta Ibu, Madu dan Sebuah Keajaiban

Pada suatu hari di sebuah kota kecil di pinggiran Prancis, hiduplah seorang pemuda bernama Pierre. Pierre adalah seorang Muslim berusia 20 tahun yang memiliki keturunan Prancis dan Yaman. Meskipun berasal dari Eropa, Pierre memiliki kecintaan mendalam terhadap studi agama Islam. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Fiqih di Mesir, tempat di mana ia bisa lebih mendalami ajaran agama dan tradisi Islam. Keputusannya untuk belajar di luar negeri mencerminkan dedikasinya untuk memahami dan menerapkan ilmu fiqih dengan lebih mendalam. Pierre berharap dapat kembali ke Prancis suatu hari nanti untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya.

Hari ini adalah hari terakhir Pierre di kota kelahirannya sebelum kembali ke Mesir. Dia berencana untuk bertolak ke Mesir setelah liburan kuliahnya berakhir. Pagi ini, Pierre terbangun terlambat, membuatnya harus terburu-buru menyiapkan segala sesuatunya. Meskipun pesawatnya baru berangkat sekitar pukul 13.00, dia merasa tertekan oleh waktu. Ditambah lagi, Pierre harus menuju Bandara Charles de Gaulle (CDG), yang terletak sekitar dua jam perjalanan dari tempat tinggalnya. Keterlambatannya pagi ini membuatnya semakin sadar akan betapa pentingnya setiap momen yang tersisa di kota ini sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke tempat studi dan kehidupan yang telah menunggunya di Mesir.



Sebelum berangkat, Pierre menyempatkan waktu untuk bercengkrama dengan dua adik perempuannya, yang pada hari Minggu ini tidak bersekolah. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan penuh kehangatan, berbagi cerita dan tawa. Selain itu, Pierre juga membantu ayahnya memperbaiki sofa yang rusak di ruang keluarga. Tak lupa, dia ikut mencuci piring bekas sarapannya sebagai bagian dari rutinitas pagi sebelum pergi. Walaupun ibunya terus-menerus mengingatkannya untuk segera bersiap-siap agar tidak terlambat menuju bandara, Pierre merasa berharga bisa menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarganya sebelum kembali ke Mesir. Kegiatan-kegiatan sederhana ini memberikan Pierre kenangan indah dari hari terakhirnya di kota kelahirannya.

Kebersamaan dengan keluarga membuat Pierre lupa bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi. Idealnya, dia harus berangkat sekitar pukul 09.00 agar bisa santai menuju bandara. Mengingat pesawatnya berangkat pukul 13.00 dan perjalanan internasional sering memakan waktu lama di imigrasi, Pierre menyadari betapa pentingnya untuk segera berangkat. Dengan cepat, dia bergegas mandi dan tergesa-gesa merapikan bajunya ke dalam koper. Dia memasukkan beberapa setelan pakaian formal untuk acara-acara kuliah, serta pakaian kasual untuk kesehariannya. Tidak lupa, dia juga mengemas perbekalan yang ibunya belikan: beberapa kotak makanan ringan, camilan favoritnya, dan minuman untuk perjalanan. Dengan semua barang siap, Pierre meninggalkan rumah dengan harapan masih memiliki cukup waktu untuk perjalanan ke Bandara Charles de Gaulle sebelum penerbangannya.

Akhirnya, jam menunjukkan pukul 10.00. Pierre bergegas berpamitan kepada bapak, ibu, dan dua adiknya. Setelah mengucapkan selamat tinggal dengan penuh haru, dia buru-buru menuju bus stop untuk menaiki bus menuju bandara. Dia berlari kecil agar tidak terlambat. Sesampainya di bus stop, Pierre mendapati bahwa ada sesuatu yang tertinggal di rumah. Dengan cepat, dia menyadari betapa pentingnya barang tersebut dan langsung berlari sekencangnya kembali ke rumah. Keringat mulai membasahi dahinya, namun semangatnya tetap tinggi. Pierre berharap bisa kembali tepat waktu untuk mengejar bus dan melanjutkan perjalanannya ke Bandara Charles de Gaulle sebelum penerbangannya.

Ketika Pierre tiba kembali di rumah dengan napas terengah-engah, ibunya segera bertanya dengan cemas, “Kenapa kamu kembali lagi?” Pierre menjawab, “Ada yang tertinggal.” “Apa itu?” tanya ibunya, masih penasaran. Pierre menjelaskan, “Aku lupa minum madu propolis yang selalu ibu pesan untuk diminum setiap pagi sebelum beraktivitas. Selain itu, aku juga lupa mencium ibu.” Dia melanjutkan, “Dalam Islam, kita selalu diingatkan untuk menghargai ibu terlebih dahulu, sebelum ayah. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, di mana seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Pertanyaan yang sama diajukan lagi, dan Rasulullah SAW kembali menjawab, ‘Ibumu.’ Baru setelah itu Nabi SAW menyebutkan, ‘Kemudian ayahmu’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibunya tersenyum, merasa terharu mendengar perhatian Pierre. Setelah Pierre meminum madu propolis dan mencium ibunya, mereka berdua merasa lebih tenang. Pierre lalu kembali bergegas menuju bus stop, berharap masih sempat untuk mengejar bus menuju bandara.


Singkat cerita, Pierre akhirnya naik bus menuju bandara. Di Prancis, bus selalu tepat waktu, namun karena keterlambatannya pagi ini, dia terpaksa naik bus yang berangkat pukul 10.15. Setibanya di bandara, Pierre mendapati bahwa dia sudah terlambat dan pesawatnya sudah lepas landas. Rasa sedih menyelimuti dirinya saat ia menyadari bahwa dia harus membeli tiket baru untuk penerbangan berikutnya, yang tentu saja tidak murah. Pierre merasa berat untuk menghubungi orang tuanya dan menyusahkan mereka dengan masalah ini. Dia memikirkan segala kemungkinan dan berusaha mencari solusi, berharap bisa segera menemukan cara untuk melanjutkan perjalanan tanpa terlalu membebani keluarga.

Pierre menghabiskan berjam-jam di bandara sambil memikirkan cara untuk membeli tiket baru. Pesawat berikutnya baru tersedia pada pukul 20.00, jadi dia harus menunggu hampir dua jam setelah keterlambatannya. Dalam suasana hati yang melankolis, Pierre mencoba mencari informasi tentang penerbangan baru sambil duduk di ruang tunggu. Tiba-tiba, dia melihat berita di layar televisi di bandara dan terkejut mengetahui bahwa pesawat yang sebelumnya dia tumpangi mengalami kecelakaan. Berita tersebut melaporkan bahwa pesawat itu jatuh beberapa kilometer dari lokasi penerbangan. Pierre merasa cemas dan terkejut saat mengetahui kejadian tersebut, menyadari betapa besar dampak dari ketidaktelitiannya pagi itu.

Tiba-tiba, Pierre mendengar suara telepon berdering. Ia segera mengangkatnya, dan ternyata itu dari ibunya. Suara ibunya penuh kekhawatiran, “Pierre, kenapa telepon ini bisa nyambung? Kami sudah sangat cemas!” Pierre menjelaskan situasinya dengan nada lega, dan ibunya mendengar dengan takjub dan penuh rasa syukur saat Pierre bercerita tentang keterlambatannya dan bagaimana dia tertinggal pesawat.

Pierre menjelaskan bahwa meskipun dia mengalami keterlambatan, kejadian ini mengingatkannya pada pesan ibunya untuk selalu minum madu propolis setiap pagi dan pada hadits Nabi SAW yang mengharuskan memuliakan ibu. Dengan air mata di matanya, Pierre mengungkapkan, “Alhamdulillah, ibu. Ternyata semua ini terjadi karena aku ingat pesan ibu dan hadits Nabi. Keterlambatan ini mungkin telah menyelamatkan hidupku.” Ibunya, yang mendengar dengan penuh rasa syukur, mengucapkan alhamdulillah dan berdoa agar Pierre selalu dalam lindungan Allah. Mereka berdua merasa lebih dekat dan penuh rasa syukur atas kesempatan kedua yang diberikan.

The End

Disclaimer: Cerita ini adalah fiksi; nama karakter dan kejadian di dalamnya sepenuhnya rekaan.

Pengarang Cerita: Panca Endela @ocagaul
Editor: ChatGPT
Gambar: Pixabay & Google


Pesan Penulis:

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran berharga dari cerita ini. Setiap kejadian, baik atau buruk, mengandung hikmah dan pelajaran yang dapat memperkuat iman dan kesadaran kita. Mari kita terus berusaha menjalankan pesan-pesan penting dalam hidup, termasuk menjaga hubungan baik dengan orang tua dan mengikuti nasihat yang bermanfaat.


Selain itu, semoga kita juga bisa mengkonsumsi MADU PROPOLIS dari Alfillah, yang tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kebiasaan baik setiap hari.











No comments:

Post a Comment